Posts Tagged ‘Sastra’

17.02.2012 – Segoret tinta untuk sebuah cerita.

Friday, February 17th, 2012

Berpetualang itu selalu menyenangkan. Tidak membuat hidup menjadi statis, rasanya. Namun, kata siapa berpetualang itu artinya harus selalu mengunjungi tempat2 keren dan ajaib yang belum pernah kita temuin. Dan, saya saat ini sedang mencoba sensasi petualangan baru. Menulis blog diatas kereta api.

Saat ini, saya sedang dalam perjalanan pulang ke bandung setelah hampir seminggu menjalani training di salahsatu hotel berbintang 5 di Jakarta Pusat. Dengan menggunakan tiket dengan keberangkatan pukul 15.50 WIB, saya berangkat dari Stasiun Gambir. Kebetulan kereta api yang saya gunakan namanya, KA Argo Parahyangan dengan kelas eksekutif. Ternyata memang cukup menyenangkan perjalanan dengan menggunakan kereta ini. Ditambah selama perjalanan kali ini, bukan hanya hijaunya sawah yang saya temui, tapi juga rintik hujan di jendela, dan kabut tipis menutupi pegunungan. Rasanya, seperti menikmati lukisan alam yang indahnya tak bertepi.

Kereta ini memang dilengkapi dengan beberapa fasilitas yang sangat baik. Dari mulai kursi empuk dengan sandaran yang bisa diatur, ruang yang luas dilengkapi dudukan untuk kaki, bantal kecil, colokan untuk listrik, meja kecil alas serbaguna, sandaran tangan yang memisahkan antar kursi, lcd tv, toilet yang cukup bersih dan nyaman, dan AC serta penerangan yang baik. Yeah, its the executive class, indeed.

Allah itu Maha Mengerti. Allah itu Maha Indah. Dan, Dia berikan saya kenikmatan dari kehendak-Nya untuk saya syukuri. Alhamdulillah, nikmat itu sedang saya rasakan saat ini. Betapa tidak, seperti berjalan di dalam mimpi. Allah anugerahi saya pekerjaan yang baik dan halal, insya Allah, dan bahkan menyentuh sisi terliar mimpi di benak saya. Saya ingin lebih lama ada di garis impian ini. Amiiinn..

Mmmm… i wanna write a poetry

Perjalanan


Wajah manis sang puteri malu sedang merona.
Dalam senja berbalut kabut lembut dari ujung sana.
Dipeluk tetes hujan yang turun pelan merintik.
Serta daun, pohon, sawah, yang berlari di sisi tak berhenti.

Sang puteri mengusap lembut ke sela-sela hati.
Ia mengerti, ada sebentuk rindu yang memeluk nurani.
Rindu akan jerit tawa sang langkah kecil.
Rindu yang selalu ada, menghiasi.

Lalu sang puteri berbisik lirih,
“Sayang, kan kubawa kau pergi untuknya”

Aku ?
Tersenyum, dan mengusap pipinya.
“Iya, bidadari.. aku ingin ada di sisinya nanti malam”

Dan, sang puteri merona lagi.

“Aku turun dari langit untuk menemanimu..
Karena aku tahu, bahagia ini untukmu..”

- KA Argo Parahyangan, 17 Februari 2012-
Continue reading “17.02.2012 – Segoret tinta untuk sebuah cerita.” »

20.04.2011 – Menyapih sepi …

Wednesday, April 20th, 2011

lonely...

” ini yang kesekian kalinya, ” ujar pria itu setengah berbisik. Hanya bayangan hitam yang ada di sekitarnya. Seperti mengerti, ia kemudian menghela nafas panjang. ” Sudah, berhenti saja ” teriaknya dalam hati. Tapi semua itu tercekat, tepat di kerongkongannya. Ia tak mampu, bahkan untuk mengucap kata ” Pergi.. “. Merasa lelah, lemah yang ia pun tak mengerti kenapa.

Siang itu, di balik meja tempatnya bekerja. Entah kenapa, seluruh bayangan kepenatan terasa seperti slide yang bergerak silih berganti. Harapan, keinginan, tapi seakan terbentur tembok angkuh tegak didepannya, yang namanya kenyataan. Ia tahu, tidak harus ia merasa seperti itu. Merpati miliknya tidak pergi kemana-mana, meski juga nyatanya tidak ada di dekatnya saat itu.

Beringsut ia berdiri dari duduknya. Menuju tempat favorit tidak jauh dari tempatnya berdiam sedari tadi. Riak awan dari balik sela jendela. Ah, andai semua bisa mengerti. Tapi sekali lagi, ia tahu semua itu masih saja hanya mimpi. Pria itu, lelaki yang masih muda, belum juga genap 30 tahun usianya. Namun, beban fikiran di kepalanya merubah kerut keningnya, seakan waktu sudah berjalan 50 tahun lamanya.

Pernah, dia pernah menggurat tembok bercat putih di sebuah rumah tak jauh dari tempat tinggalnya. Guratan yang bercerita banyak tentang apa yang ia rasa. Sebuah grafiti. Atau lebih tepat sebuah mimpi dalam bingkai tak bertepi. Meliuk – liuk. Turun naik sekenanya. ” Jangan harap kalian bisa mengerti “, gumamnya saat ia menorehkan guratan abstrak itu. Lalu, ada yang bertanya, ” Kenapa ? Kenapa kamu tidak ingin dimengerti ? “. ” Ah, apa setelah dimengerti, saya bisa menarik nafas lega lalu tersenyum setelahnya ? “. Dan, pertanyaan itu tidak pernah ada yang bisa menjawab.

Lelaki itu, masih saja berdiri. Mengepal tangan di balik pinggangnya. Menggenggam kuat seakan ingin berontak. ” Entah sampai kapan saya harus seperti ini “. Dan kalian tahu ?. Pria itu tertunduk. Bukan, dia bukan batu karang yang tegar berdiri di tengah ombak. Dia hanya pelepah kelapa, yang saat ini sedang terhempas, terbawa gumpalan demi gumpalan air laut. Dan dari dalam dirinya, sedang menetes setitik air. Kerinduan, sahutnya.

Kalian tanya siapa pria itu ? namanya … kesepian

08.03.2011 – Sabtu pagi…

Tuesday, March 8th, 2011

Sabtu dini hari. Dingin, hujan masih saja turun, sedikit-sedikit. Sudut kamar kost. Sepi, setelah hiruk pikuk hilang sejak jam 11 malam tadi. Masih terjaga. Masih juga berusaha menaklukan laporan praktikum tadi siang yang harus selesai pagi ini. Perfeksionis. Inginnya, selesai tanpa cela. Tapi, nyatanya malah susah buat selesai-selesai. Lelah.

06.30 pagi. Sudah terlambat untuk terlelap. Mendorong kursi ke belakang. Sayup-sayup, masih terdengar suara lantunan Al Qur’an dari surau yang tidak jauh jaraknya. Menarik nafas panjang.
” Akhirnya, selesai juga. “. Cape tapi puas. Sejurus kemudian, mengambil handuk, bersiap untuk mandi.
” Coba ajah masuk kuliah hari ini ga usah pagi banget “, menggumam. Harapan yang tidak nyata, karena tetap harus ada di ruangan, tepat jam 08.00 pagi. no excuses

Namanya, Firdaus. Mahasiswa semester 5 salahsatu universitas negeri di kota ini. Baginya, kuliah seperti satu celah yang tidak disangka. Keluarganya cukup berada, tapi dia rasa sesak. Alih-alih menyentuh hatchback Toyota Yaris, hadiah ulangtahun pemberian ayahnya yang baru pulang dari luar negeri, ia lebih memilih untuk menepi sendiri di kamar kost dekat kampusnya. Melepas label. Hanya ingin jadi sendiri. Dan berhasil, sebagian besar lingkungannya hanya tahu, anak yang introvert.

Sekarang, di depan cermin. Kaos abu-abu dengan tulisan besar Eiger di tengahnya. Celana jeans agak kumal. Rambut, yang untungnya, tidak panjang dan mudah diatur. Sepatu kets. Sweater. Menarik nafas panjang sekali lagi, lalu menyampingkan backpack oranye, tas gunung yang menemaninya sejak pertama masuk kampus itu.
” Everything clear. Bismillah.. ”
Diseruput segelas teh manis panas di mejanya yang setelah mandi tadi ia seduh. Dan, mulai berjalan keluar kamar.

” Pagi, bu ”
” Eh, a Firdaus. Mau berangkat ke kampus ? ”
” Iyah nih bu. Duh, seneng liat Ibu pagi-pagi udah nyapu. ”
Satu hal yang ia suka dari tempat ini. Suasananya. Induk semang yang baginya sudah seperti ibunya sendiri. Paginya yang sejuk, sambil sesekali ditingkahi kokok ayam jago peliharaan tetangga kost ibu itu. Atau keriuhan anak-anak yang pulang mengaji dari surau. Rasanya sangat berbeda dengan keangkuhan bangunan rumahnya di komplek mewah salahsatu sudut kota ini.

Tergopoh-gopoh. Lokasi fakultas tempatnya kuliah memang jauh dari pintu gerbang depan. Ada angkot kampus, memang. Tapi ia memang harus pandai mengatur uang. Penghasilan sampingannya di rental komputer dekat kampusnya memang tidak banyak. Well, sejak memutuskan untuk pergi dari rumah, ia memang sangat jarang meminta uang. Hampir tidak pernah, malah. Hal yang sering tidak disukai kedua orangtuanya.

Agak tersengal. ” Ah, untung ga terlambat “. Ruang kuliah belum terisi penuh. Sengaja ia mengambil tempat duduk agak di belakang. Antisipasi, andai mengantuk, hehehe… Dan tanpa ia sadari, 3 bangku agak jauh dari tempatnya. Ada mata yang lekat memperhatikan. Sedang tersenyum, tipis.

Kuliah dimulai. Satu persatu slide presentasi diurai.
” Proses pasteurisasi merupakan proses pemanasan dengan suhu yang relatif cukup rendah (dibawah 1000C) dengan tujuan untuk menginaktifasi enzim dan membunuh mikroba pembusuk. Pemilihan proses ini didasarkan pada sifat produk yang relatif asam sehingga mikroba menjadi lebih sensitif terhadap panas. Selain itu, penggunaan panas yang tidak terlalu tinggi juga dapat mengurangi resiko rusaknya beberapa zat gizi seperti vitamin C. Proses pasteurisasi sedikit memperpanjang umur simpan produk pangan dengan cara membunuh semua mikroorganisme patogen (penyebab penyakit) dan sebagian besar mikroorganisme pembusuk, melalui proses pemanasan. Karena tidak semua mikroorganisme pembusuk mati oleh proses pasteurisasi, maka untuk memperpanjang umur simpannya produk yang telah dipasteurisasi biasanya disimpan di refrigerasi (suhu rendah)… ”
” Coba kamu yang duduk di belakang.. ” Tiba-tiba suara dosen itu memecah konsentrasi.
” Aduh.. ”
” Jelaskan perbedaan pasteurisasi dan sterilisasi.. ”
” Oh.. ” Gelalapan, tidak menyangka akan ditanya.
” Kamu, Firdaus yah ? Ga bisa jawab ? Mangkanya perhatikan kalo saya sedang bicara.. ”
” Oh, iyah pak.. ”
” Sial, gua ngantuk.. “, gumamnya kesal.
Dan mata itu menatapnya lagi. Kali ini sedikit mengikik, tanpa suara.

Menegakkan punggungnya, berharap matanya lebih mau berkompromi.
” Tahan, fir.. 1 jam lagi kuliah ini selesai..”, batinnya.
Mengalihkan pandangan dari whiteboard.
Bug!
Kedua matanya tertumbuk. Dalam sekejap salah tingkah.
Mata itu, sedang melihatnya.
Perlahan tertunduk, reflek senyum tipis di wajahnya.
Rasanya telak di hati.

…. ” Aku tidak lihat kantukmu, tapi matamu.. “

03.02.2011 – its my first post…

Thursday, February 3rd, 2011

Write, again...

Hi there,

well.. it’s not my first time to have a private website, indeed..

seperti mati suri.
bukan berarti kehilangan harapan, tapi memang ada kesibukan yang cukup menyita waktu saya akhir-akhir ini.
website saya, yang sepertinya menandai semangat hidup baru di hari-hari saya, sempat mati suri, memang.

dan saya bersyukur, akhirnya saya bisa kembali online dengan website ini, dengan konten yang baru.

saya suka banget menulis.
seakan punya tempat untuk berekspresi.
bukan, bukan untuk unjuk diri,
tapi lebih hanya menghanyutkan mimpi, bukan di kali..
karena saya yakin,
saat mimpi itu ada, keajaiban apapun bisa terjadi.

and then,
i would say many thanks to all of you who have reads and maybe give comments in my website..

ga ada yang salah dengan menulis, kan..
and i really appreciate with everything you have done in here, meanwhile your visit times.. :)

Bandung, 03 Februari 2011