Posts Tagged ‘Sepi’

24.05.2011 – Tanpa Judul

Tuesday, May 24th, 2011

Aku untuk kamu … Kamu untuk aku …

Sekali lagi, aku tersenyum sambil menggumamkan kata-kata itu. Bahkan bulan pun menelisik, seakan ingin tahu apa yang istimewa ?. Keajaiban mimpi, itu jawabnya manakala aku ditanya.

- – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - -

Hari ini, 10 tahun yang lalu. Dalam ketenangan sore yang mulai menyergap. Di sebuah cafe, waktu itu. Benteng begitu tinggi, sulit untuk kugapai.. Ada yang bergetar saat kalimat ini ia bisikkan, sambil menatap lembut mataku. “Aku ga akan kemana-mana”, katanya sambil tetap menatap lembut mataku. Perlahan, ia sibakkan rambut di keningku. Diusapkan tiga jarinya di keningku. Aku tahu, ini bukan yang ia inginkan. Aku tahu, ini hanya sementara. Tapi aku hanya sebentuk hati, yang sedang ingin tak tegar menahan ombak. Ada butir yang meluruh, turun menyusuri pipi. Tapi, aku ingin tersenyum. Aku ingin senyum ini yang ia lihat. Senyum tulus hanya untuknya.

Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan pernah pergi..

- – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - -

Dan inilah aku saat ini. Di sudut balkon rumah ini sambil sesekali terpejam. Dalam rengkuh lembut penuh sayang. Aku dan kamu, selamanya.

Aku tahu, aku tak pernah boleh berhenti untuk bermimpi…

20.04.2011 – Menyapih sepi …

Wednesday, April 20th, 2011

lonely...

” ini yang kesekian kalinya, ” ujar pria itu setengah berbisik. Hanya bayangan hitam yang ada di sekitarnya. Seperti mengerti, ia kemudian menghela nafas panjang. ” Sudah, berhenti saja ” teriaknya dalam hati. Tapi semua itu tercekat, tepat di kerongkongannya. Ia tak mampu, bahkan untuk mengucap kata ” Pergi.. “. Merasa lelah, lemah yang ia pun tak mengerti kenapa.

Siang itu, di balik meja tempatnya bekerja. Entah kenapa, seluruh bayangan kepenatan terasa seperti slide yang bergerak silih berganti. Harapan, keinginan, tapi seakan terbentur tembok angkuh tegak didepannya, yang namanya kenyataan. Ia tahu, tidak harus ia merasa seperti itu. Merpati miliknya tidak pergi kemana-mana, meski juga nyatanya tidak ada di dekatnya saat itu.

Beringsut ia berdiri dari duduknya. Menuju tempat favorit tidak jauh dari tempatnya berdiam sedari tadi. Riak awan dari balik sela jendela. Ah, andai semua bisa mengerti. Tapi sekali lagi, ia tahu semua itu masih saja hanya mimpi. Pria itu, lelaki yang masih muda, belum juga genap 30 tahun usianya. Namun, beban fikiran di kepalanya merubah kerut keningnya, seakan waktu sudah berjalan 50 tahun lamanya.

Pernah, dia pernah menggurat tembok bercat putih di sebuah rumah tak jauh dari tempat tinggalnya. Guratan yang bercerita banyak tentang apa yang ia rasa. Sebuah grafiti. Atau lebih tepat sebuah mimpi dalam bingkai tak bertepi. Meliuk – liuk. Turun naik sekenanya. ” Jangan harap kalian bisa mengerti “, gumamnya saat ia menorehkan guratan abstrak itu. Lalu, ada yang bertanya, ” Kenapa ? Kenapa kamu tidak ingin dimengerti ? “. ” Ah, apa setelah dimengerti, saya bisa menarik nafas lega lalu tersenyum setelahnya ? “. Dan, pertanyaan itu tidak pernah ada yang bisa menjawab.

Lelaki itu, masih saja berdiri. Mengepal tangan di balik pinggangnya. Menggenggam kuat seakan ingin berontak. ” Entah sampai kapan saya harus seperti ini “. Dan kalian tahu ?. Pria itu tertunduk. Bukan, dia bukan batu karang yang tegar berdiri di tengah ombak. Dia hanya pelepah kelapa, yang saat ini sedang terhempas, terbawa gumpalan demi gumpalan air laut. Dan dari dalam dirinya, sedang menetes setitik air. Kerinduan, sahutnya.

Kalian tanya siapa pria itu ? namanya … kesepian